Kamu mungkin sering mendengar tentang istilah debit kredit akuntansi dalam dunia keuangan. Apalagi jika kamu sering melakukan transaksi digital, maka debit kredit akuntansi ini akan sering ditemukan.

Pada dasarnya, ada perbedaan antara kredit dan debit sehingga tidak terjadi kesalahan saat melakukan pembukuan.

Untuk memahami seperti apa debit kredit dalam akuntansi hingga contohnya, simak ulasannya di bawah ini.

Pengertian Debit dan Kredit dalam Akuntansi

Arti debit atau debet adalah entri akuntansi yang meningkatkan akun aset atau beban, mengurangi akun liabilitas atau ekuitas. Posisi debet berada di sebelah kiri dalam neraca saldo atau pembukuan.

Sebaliknya, kredit adalah entri akuntansi yang meningkatkan akun liabilitas atau ekuitas, menurunkan akun aset atau beban. Posisi kredit berada di sebelah kanan dalam neraca saldo atau pembukuan.

Dalam sistem pembukuan pemasukan berganda (double-entry), peran dan arti debit dan kredit adalah melacak transaksi bisnis di berbagai jenis akun yang digunakan.

Hal ini dilakukan agar entri jurnal di buku besar akun menjadi valid. Apalagi, total debet harus sama dengan total kredit.

Dengan kata lain, total entri di sisi kiri harus sama dengan total entri di sisi kanan. Terkadang, kamu perlu menempatkan lebih dari satu akun pada posisi debit atau kredit, agar kedua sisi entri Jurnal menjadi sama.

Baca Juga: Mengenal Perbedaan Nota Debet dan Nota Kredit dan Fungsinya

Perbedaan Debit dan Kredit dalam Akuntansi

Setiap terjadi transaksi akuntansi, setidaknya ada dua akun yang selalu berkaitan. Pertama, entri debit dicatat pada satu akun dan entri credit dicatat terhadap akun lainnya.

Tidak ada batas atas jumlah akun yang terlibat di dalam transaksi, namun minimum tidak kurang dari dua akun. Total dari debit dan credit untuk setiap transaksi harus selalu sama.

Dengan begitu, transaksi akuntansi selalu dikatakan dengan keseimbangan. Apabila suatu transaksi tidak seimbang, maka laporan keuangan tidak mungkin dapat dibuat.

Penggunaan debit dan kredit dalam format pencatatan transaksi dua kolom merupakan hal paling penting dari semua kontrol atas akurasi akuntansi.

Berikut ini adalah perbedaan debit dan kredit dalam akuntansi yang perlu dipahami:

  • Debit mengacu pada sisi kiri akun buku besar, sedangkan kredit berhubungan dengan sisi kanan akun pada buku besar. Di dalam rekening pribadi, pihak penerima akan di debit dan pihak pemberi akan dikreditkan.
  • Di dalam contoh akun neraca perusahaan, apapun yang masuk akan didebit. Sementara apapun yang keluar akan dikreditkan.
  • Untuk laporan laba-rugi, semua pengeluaran dan kerugian akan didebit. Namun semua pendapatan dan keuntungan akan dikreditkan.
  • Peningkatan debit disebabkan oleh kenaikan cash, inventaris, pabrik dan mesin, tanah dan bangunan, pengeluaran (seperti gaji, asuransi, pajak, dividen, dan lain sebagainya). Sedangkan peningkatan kredit disebabkan oleh kenaikan dana pemegang saham, biaya keanggotaan, pendapatan sewa, laba ditahan, hutang, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Akuntansi Perusahaan Dagang: Definisi dan Siklus Lengkapnya

Contoh Perbedaan Penempatan Akun Pada Posisi Debit atau Kredit

Berikut ini adalah beberapa contoh debit dan kredit yang terdapat di transaksi umum perusahaan dagang atau yang lainnya. Hal ini sering terjadi pada sebuah bisnis:

Menjual barang dagang secara tunai kepada pelanggan, maka akun debitnya adalah Kas, dan akun kreditnya adalah Pendapatan.

  • Menjual barang dagang secara credit kepada pelanggan, akun debit Piutang Dagang. Sedangkan akun kreditnya adalah Pendapatan.
  • Membeli perlengkapan secara tunai kepada supplier, akun debit adalah Perlengkapan dan akun kredit adalah Kas.
  • Membeli perlengkapan secara credit kepada supplier, akun debitnya adalah Perlengkapan dan akun kredit adalah Utang Dagang.
  • Menerima kas atas pelunasan piutang usaha oleh pelanggan, akun debitnya Kas, dan akun kreditnya Piutang Dagang.
  • Membeli fixed assets secara kredit kepada supplier, akun debit Fixed Assets dan akun kredit Utang Dagang.
  • Pembelian inventory secara tunai kepada supplier, akun debit Inventory, dan akun kredit Kas.
  • Pembelian inventory secara kredit kepada supplier, akun debit Inventory dan akun kredit Utang Dagang.
  • Membayar gaji karyawan, akun debit Salary expenses dan akun kredit Kas.

Dengan memahami contoh dibawah ini, kamu bisa lebih mengerti apa itu perbedaan debit dan kredit di dalam akuntansi.

Contoh 1: Pembelian Peralatan Kantor secara Tunai

PT Jaya Abadi membeli peralatan kantor senilai Rp50.000.000 secara tunai. Bagaimana pencatatan transaksi ini dalam jurnal?

Jawaban:

Transaksi ini menyebabkan aset perusahaan berupa peralatan bertambah dan kas berkurang. Pencatatan dalam jurnal adalah sebagai berikut:

NoTanggalKeteranganDebit (Rp)Kredit (Rp)
130/01/2025Peralatan Kantor12.000.000 
  Kas 12.000.000

Keterangan: Mendebit akun Peralatan Kantor sebesar Rp50.000.000 dan mengkredit akun Kas sebesar Rp50.000.000.

Contoh 2: Pembayaran Gaji Karyawan

Pada tanggal 27 Juli, perusahaan membayar gaji pegawai sebesar Rp12.000.000. Bagaimana pengaruh transaksi tersebut terhadap akun?

Transaksi ini menyebabkan beban perusahaan bertambah dan kas berkurang. Pencatatan dalam jurnal adalah sebagai berikut:

NoTanggalKeteranganDebit (Rp)Kredit (Rp)
127/07/2025Beban Gaji12.000.000 
  Kas 12.000.000

Keterangan: Mendebit akun Beban Gaji sebesar Rp12.000.000 dan mengkredit akun Kas sebesar Rp12.000.000.

Contoh 3: Penjualan Barang Dagang secara Kredit

Perusahaan menjual barang dagang senilai Rp5.000.000 secara kredit kepada pelanggan. Bagaimana pencatatan transaksi ini dalam jurnal?

Transaksi ini menyebabkan piutang usaha bertambah dan pendapatan penjualan bertambah. Pencatatan dalam jurnal adalah sebagai berikut:

NoTanggalKeteranganDebit (Rp)Kredit (Rp)
130/01/2025Piutang Usaha5.000.000 
  Penjualan 5.000.000

Keterangan: Mendebit akun Piutang Usaha sebesar Rp5.000.000 dan mengkredit akun Penjualan sebesar Rp5.000.000.

Di dalam perusahaan, sebuah bisnis pasti sering mengalami atau melakukan transaksi, baik transaksi secara internal maupun eksternal. Transaksi-transaksi tersebut mengharuskan pihak perusahaan untuk membuat dokumen transaksi dalam bentuk laporan keuangan.

Pembuatan laporan keuangan tersebut adalah untuk mengetahui laju keluar masuknya dana perusahaan. Tujuannya untuk meminimalisir kemungkinan over budget pada kategori akun tertentu di dalam pelaporan.

Oleh karena itu, dengan adanya laporan debit dan kredit, diharapkan dapat membantu mengawasi keuangan perusahaan dari kemungkinan adanya korupsi dari karyawan.

Nah, dengan Paper.id, kamu juga bisa melakukan pengawasan debit dan kredit dengan makin mudah. Pasalnya, pencatatan laporan keuangannya otomatis. Setiap kamu menggunakan invoicing digital, Paper.id akan otomatis mencatat transaksi yang terjadi dan membuatkan laporan sederhananya untukmu.

Yuk, pelajari selengkapnya tentang akuntansi sederhana Paper.id!

Lalu, daftarkan juga bisnismu ke Paper.id, gratis.

Nadiyah Rahmalia